Cari

Kamis, 10 Maret 2011

kalimat bervariasi

KALIMAT BERVARIASI
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea kalimat yang bervariasi itu merupakan “santapan” yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan. Dengan demikian mampu membuka selera pembaca.
Pada hakikatnya seorang penulis adalah seorang pembaca. Dan seorang penulis yang efektif otomatis merupakan seorang pembaca yang terbaik. Ia menyadari, membaca merupakan sejenis kerja mental yang bera; memahami maksud sebuah bacaan memang sering kali sukar. Biasanya penulis yang baik itu selalu ingat, membaca itu meletihkan, membosankan, dan acap kali orang merasakan perbuatan membaca sebagai beban mental yang tidak selalu menyenangkan. Oleh sebab itu, pengarang sedapatnya berusaha menghalau keletihan dan kebosanan tadi.
Yang menjadi pangkal persoalan disini ialah bagaimana agar alinea demi alinea dari bacaan yang kita buat itu cukup menarik untuk dibaca. Penulis profesional umumnya mengusahakan hal itu melalui variasi kalimatnya, terutama dalam segi :
(1) cara memulainya,
(2) ukuran panjang singkatnya,
(3) struktur atau polanya, dan
(4) jenisnya.






1. Variasi dalam Cara Memulai
Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan :
(1) subyek,
(2) predikat,
(3) sebuah kata modalitas,
(4) sebuah frase,
(5) sebuah klausa, dan
(6) penekanan yang efektif.
Penulis yang berpengalaman, menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi. Agar lebih jelas, marilah kita lihat penjelasan berikut ini.

1.1 Memulai Kalimat dengan Subyek
Perhatikan contoh berikut, yang semuanya dimulai dengan subyek:
a. Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b. Mencari kekayaan adalah hal yang normal.
c. Orang kaya bukanlah orang yang jahat.
d. Tuhan tidakkah akan memberkati orang yang bekerja dengan tekun dan jujur?
Kalimat yang dimulai dengan cara subyeknya terletak di bagian depan, sangat banyak dipakai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Ini merupakan cara yang umum dan barang kali orisinal di dalam memulai kalimat. Maka cara-cara lain dalam memulai kalimat adalah merupakan variasi saja dalam menghasilkan komunikasi yang efektif.
Di dalam suatu karangan, tegasnya di dalam sebuah alinea, kalimat itu sudah lain situasinya, dibanding ketika berdiri sendiri-sendiri. Di dalam sebuah karangan, kalimat itu sudah terikat oleh hubungan kerja sama, suatu situasi, dan suatu tema atau topik. Situasi itu langsung mempengaruhi pembaca. Jadi efek yang ditimbulkan bukan lagi oleh masing-masing kalimat, melaiankan situasi yang membentuk kerja sama tadi. Kerja sama yang lancar akan memberikan kesan yang menyenangkan. Dan sebaliknya kerja sama yang tidak lancar, kaku memberikan kesan yang kurang ramah, dan menegangkan. Variasi dapat menciptakan keramahan dan menghalau ketegangan.

1.2 Memulai Kalimat dengan Predikat
Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, kalimat dapat diawali dengan predikat. Dapat pula dimulai dengan membalikkan predikat ke depan, kemudian subyeknya menyusul dan seterusnya disusul lagi dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Kalimat yang dimulai dengan predikat itulah yang disebut inversi. Unsur inversi bukan hanya terdapat pada permulaan kalimat, tetapi bisa juga di tengah.

1.3 Memulai Kalimat dengan Sebuah Kata Modal
Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea penulis dapat menggunakan sebuah kata modla untuk mengawali kalimatnya. Perbandinga di bawah ini dapat memberi petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai kalimat yang diawali dengan sebuah kata modal.

Dengan Sebuah Kata Modal

Dengan Subyek
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.

Persoalan itu Agaknya akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.

Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Semua kata yang dicetak tebal berfungsi sebagai kata modal dalam kalimat yang bersangkutan. Di dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang dapat berfungsi selaku modal. Fungsinya ialah untuk untuk memberi warna, sehingga pengertian kalimat itu seluruhnya dapat diubah. Berbagai macam sikap bisa kita lukiskan menggunakan kata modal di dalam sebuah kalimat: keragu-raguan, kepastian, kesungguhan, keharusan, keharuan, dan sebagainya.
Untuk menyatakan keragu-raguan : agaknya, barangkali, kira-kira, mungkin, rsanya.
Untuk menyatakan kepastian: tentu, pernah, pasti, jarang, betul, sekali-kali, sering.
Untuk menyatakan kesungguhan: sungguh, sesungguhnya, sekali-kali, benar, sebenarnya, lambat-laun, lama-lama.
Demikian antara lain bentuk kata modal, baik di tengah-tengah kalimat maupun untuk memberikan variasi dalam memulai sebuah alinea.sebuah kata yang bisa mengubah arti keseluruhan sebuah kalimat, maka kata itu dapat digolongkan sebagai kata modal dan dapat ditempatkan pada posisi awal sebuah kalimat. Namun kata itu bukanlah sebuah subyek dan bukan pula predikat.

1.4 Memulai Kalimat dengan Sebuah Frase
Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakanuntuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea. Kalimat yang dimulai dengan frase dapat ditempatkan pada permulaan alinea,di tengah atau pada bagian akhirnya. Di dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu kalimat yang diawali dengan sebuah frase. Namun yang menjadi soal di sini bukanlah segi banyaknya, melainkan pemanfaatan sebuah frase dalam variasi kalimat.
Anda, mungkin akan menemukan bermacam-macam frase pada awal kalimat, dan semuanya dapat dilihat dari sudut variasi, untuk lebih jelas, perhatikan contoh dibawah ini ;
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
Sampai batas-batas yang luas, filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Pada musim panas tahun 1969, saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris.
Semua kelompok kata yang dicetak tebal pada contoh di atas di sebut frase. Karena letaknya di bagian depan maka disebut frase depan. Sebuah frase tidak selamanya terdapat di depan kalimat, melainkan bisa juga di tengah atau di akhir kalimat. Berikut ini adalh contoh frase yang menempati posisi tengah dan akhir.
Anak itu terus membuntuti ibunya sambil menghapus air mata.
Filsafat sampai batas-batas yang luas boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris selama musim panas tahun 1969.
Tata bahasa biasanya mengajarkan berbagai macam keterangan predikat yang sering kali kita lihat dalam bentuk frase. Diantaranya ada yang bernama keterangan waktu, keerangan sebab, keterangan perihal, keterangan kualitas dan banyak istilah yang lain.
Tata bahas juga membuat perbedaan antara frase dan kalimat. Pertama, frase itu sering kali merupakan bagian dari sebuah kalimat. Kedua, sebuah frase belum memiliki pengertian yang lengkap. Dan ketiga, di dalam sebuah frase tidak terdapat subyek dan predikat.

1.5 Memulai Kalimat dengan Sebuah Klausa
Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa juga bisa menempati posisi awal sebuah kalimat. Seuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, tidak soal apakah letaknya di depan, di tengah, atau di belakang. Namun untuk keperluan variasi kalimat di dalam sebuah alinea klausa bisa di gusur ke bagian depan. Contoh kalimat yang dimulai dengan sebuah klausa ialah:
Dalam lapangan apa pun kita bekerja, perbuatan kita sehari-hari akan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan, dean sebagainya. (Drs. Jazir Burhan)
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. (W.J.S. Poerwadarminta)
Kalau pertumbuhan bahasa Indonesia dibiarkan semaunya saja seperti selama ini, bahasa Indonesia akan jatuh kembali hanya menjadi bahasa pergaulan saja. (Ajib Rosidi)
Dalam contoh ini, semua kelompok kata yang dicetak tebal adalah sebuah klausa. Tata bahasa juga membuat perbedaan antara klausa dan sebuah frase. Perbedaan itu dapat dilihat dalam perbandingan di bawah ini:
Klausa

Frase
Dalam lapangan apapun kita bekerja

Dalam lapangan olahraga
Walaupun umurnya sudah tua

Walaupun demikian
Seandainya manusia tiada berbahasa

Kalau begitu
Jika karangan telah selesai ditulis

Jika telah selesai

Jelaslah bahwa antara klausa dan frase terdapat sedikit perbedaan. Di dalam sebuah klausa terdapat unsur subyek dan predikat, sedangkan frase tidak. Klausa adalah sebuah kalimat yang telah dimasuki oleh sebuah kata penghubung. Bila kata penghubung itu dihilangkan sebuah klausa akan berubah menjadi sebuah kalimat sederhana. Contoh:
Klausa

Kalimat
Walaupun umurnya sudah tua

Umurnya sudah tua.
Pada waktu kami sampai di sekolah

Kami sampai di sekolah.
Karena semua sudah selesai

Semuanya sudah selesai.
Sebelum orang tuanya meninggal

Orang tuanya meninggal

Kata penghubung yang sering digunakan dalam membentuk sebuah klausa misalnya kata setelah, seandainya, ketika, lantaran,. Agar, sekalipun, bagaikan, dan kata lain yang sekeluarga.
wadarminta)
ini. kan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan,
1.6 Memulai Kalimat dengan Penekanan yang Efektif
Kalimat di dalam sebuah alinea bukan tidak pernah dimulai dengan subyek saja. Ini bukanlah suatu kekecualian. Bila terdapat sebuah alinea yang kalimatnya selalu diawali dengan subyek, itu menandakan ada efek lain yang inga\in dikejar penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prisip-prinsip variasi, tapi untuk memburu keefektifan, tidak ada salahnya. Bahasa tidak diikat oleh keteraturan-keteraturan yang kaku. Bila perlu, sanggup melawan prinsip demi fungsinya sebagai alat komunikasi. Bila suatu cara dianggap efektif untuk suatu maksud, dan itu perlu dilaksanakan, maka di sana ketentuan-ketentuan tata bahasa atau ketentuan-ketentuan apapun tidak berdaya menghalanginya. Didalam bahasa memang sering terjadi dari norma-norma. Terjadinya penyimpangan itu adalah karena keinginan memburu efek yang maksimal, sehingga mampu memberikan gambaran yang senyata-nyatanya. Penekanan ini, ternyata efektif, lalu kita sebut penekanan yang efektif.



2 Variasi dalam Panjang-pendek Kalimat
Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempergunakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang dalam sebuah alinea. Kalimat panjang maupun singkat mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kerjasama kedua kalimat yang berbeda ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.

2.1 Keefektifan kalimat Singkat
Kalimat singkat memainkan peranan tertentu dalam sebuah karangan. Misalnya dalam sebuah alinea kalimat singkat tidak sama tugas serta fungsinya dengan kalimat panjang. Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatiff, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kalimat singkatlah yang melaksanakan. Disamping memberikan variasi, kalimat singkat juga akan menjadikan karangn lebih komunikatif.

2.2 Keefektifan Kalimat Panjang
Tiap penegasan tentu memerlukan uraian dan perincian. Inilah terutama tugas serta fungsi kalimat panjang dalam sebuah alinea. Tugas kalimat panjang yaitu harus memberikan uraian, ulasan, analisa, detil, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya. Memang kalimat panjanglah yang lebih tepat untuk tugas ini buat memperjelas,memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih terang serta meyakinkan.
Bagaimana kalimat yang lebih panjang memberikan uraian, perincian, ulasan, fakta, dan sebagainya. Agar lebih jelas, perhatikan contoh yang ditampilkan dengan menderetkannya ke bawah, supaya lebih mudah membandingkannya.
Menekankan : è Bertemu dengan buku tak ubahnya bertemu dengan seorang manusia.
Merinci : è Kita boleh suka atau tidak suka kepadanya, setelah mengadakan pertemuan dengan seseorang, tapi terlebih dahulu kita harus mendengarkan ia bicara.
Menekankan : è Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui orang lebih dalam tentangnya.
Merinci : è ada orang yang pada pandangan pertama saja menimbulkan simpati atau antipati pada diri kita, tapi tak mustahil kesan itu berubah setelah kita berbicara dan bertemu dengannya.
Menekankan : è Demikian juga dengan buku
è sebelum membacanya, perasaan antipati sebaiknya disimpan dulu.
è Mungkin berubah kalau kita sudah membacanya.
Merinci : è Dan kalaupun kelak tetap tidak menyukainya, kita akan dapat mengemukakan sebab-musababnya.
è Adalah lebih baik kita tidak menyukai sesuatu atau seseorang setelah kita mengetahui sebab-musababnya daripada secara apriori belaka.
Menekankan : è Apalagi menyukainya!

Peranan yang dimaikan oleh kalimat yang lebih panjang dibanding dengan kalimat yang lebih singkat, jelas sekali pada contoh ini.
, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya.
3 Variasi dalam Struktur Kalimat
Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Ini senantiasa dijadikan sasaran apabila mereka menginginkan karagaman struktur. Yang di dalamnya bisa dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat gabung. Keragaman juga melingkupi berbagai macam pola lain yang terbentuk akibat menggeser unsur-unsur tertentu. Misalnya, pola yang tersusun akibat cara memulainya yang khusus. Termasuk pola yang kita kenal dengan istilah inversi, kalimat aktif, dan kalimat pasif.

4 Variasi dalam jenis kalimat
Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat dapat menghasilkan berbagai jenis variasi. Di samping kalimat berita, juga digunakan kalimat tanya, kalimat pinta, dan kalimat seru. Begitu pula di samping kalimat tidak langsung juga digunakan kalimat langsung. Berdasarkan fungsinya kalimat dibedakan menjadi empat jenis.
Kalimat berita, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu.
Kalimat pinta, fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan lain sebagainya.
Kalimat tanya, kalimat yang menyatakan pertanyaan.
Kalimat seru, berfungsi menyatakan perasaan yang kuat. Misalnya perasaan haru, kagum, heran, benci, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Disamping kalimat tersebut, ada lagi kallimat lain yang di sebut kalimat langsung dan tidak langsung. Disebut kalimat langsung apabila menyatakan ucapan-ucapan orang lain menurut apa adanya. Bila ucapan seseorang dilukiskan dengan kata-kata dan kalimat sendiri, dengan maksud yang sama maka hasilnya adalah kalimat tidak langsung.
4.1 Variasi dengan Kalimat Tanya
Kalimat tanya ternyata efektif untuk menghasilkan variasi kalimat dalam karya tulis. Memang sukar untuk menampilkan kalimat tanya dalam setiap alinea karangan. Dalam tiap karangan biasanya selalu ada bagian yang khusus memberikan informasi. Di sini kalimat beritalah yang terutama memainkan peranan. Akan tetapi, sebuah karangan tidak begitu menarik apabila di dalamnya hanya terdapat kalimat berita atau ditambah dengan kalimat pinta bagaimanapun halusnya cara penyampaiannya. Dengan kalimat berita saja, penulis berarti omong sepihak saja. Untuk itu kalimat tanya diikutsertakan. Dengan sekali-kali menampilkan kalimat tanya berarti pembaca seakan-akan diajak turut serta dalam pembicaraan itu. Kalimat tanya tidak selamanya bersifat menanyakan karena tidak tahu, akan tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan variasi. Sebuah kalimat tanya misalnya, mengapa, apakah, bukankah, benarkah, bagaimana kalau, dan lain sebagainya.

4.2 Variasi dengan Kalimat Seru
Namanya saja kalimat seru. Suatu permainan bisa menjadi lebih seru manakal ia dapat berperan secara tepat. Dalam sebuah karangan, kalimat seru bukan membuat bacaan menjadi lebih seru, melainkan berfungsi membahasakan ekspresi-emosional yang kuat.

4.3 Variasi dengan Kalimat Langsung
Variasi dengan kalimat langsung dapat diuashakan dengan kalimat langsung. Dalam memaparkan ucapan atau pendapat orang tentang sesuatusoa, penggambaran dengan kalimat langsung biasanya lebih kongkret. Banyak sumber untuk menghasilkan kalimat langsung dalam suatu karya tulis. Seperti hasil wawancara, atau tanya-jawab, pidato, atau ceramah, sebuah buku, ucapan seorang pelaku dari sebuah cerita fiksi. Beberapa ucapan yang kita rasa penting, dan yang kita anggap ucapan ekspresif, kita tampilkan dalam bentuk kalimat langsung.

Tidak ada komentar: