SIMBOL BAHAYA
Simbol bahaya digunakan untuk pelabelan bahan-bahan berbahaya menurut Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances)
Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) adalah suatu aturan untuk melindungi/menjaga bahan-bahan berbahaya dan terutama terdiri dari bidang keselamatan kerja. Arah Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) untuk klasifikasi, pengepakan dan pelabelan bahan kimia adalah valid untuk semua bidang, area dan aplikasi, dan tentu saja, juga untuk lingkungan, perlindungan konsumer dan kesehatan manusia.
Istilah bahan berbahaya adalah nama umum dan menurut hukum bahan kimia (kemikalia) (Chemicals Law) §19/2 didefinisikan sebagai
• Bahan berbahaya atau formulasi menurut hukum kemikalia (Chemicals Law) §3a,
• Bahan, formulasi dan produk dapat membentuk atau melepaskan bahan atau formulasi berbahaya selama produksi atau penggunaan,
• Bahan, formulasi dan produk bersifat mudah meledak
Berikut adalah beberapa definisi yang dapat digunakan untuk memahami tentang masalah hukum :
• Bahan/zat adalah unsur atau senyawa kimia – bagaimana terjadinya di alam atau diproduksi dengan cara sintesis (misalnya asbes, bromin, etanol, timbal, dll)
• Formulasi adalah paduan, campuran atau larutan dari dua bahan atau lebih (misalnya cat, larutan formaldehid dll)
• Produk adalah bahan/zat atau formulasi yang diperoleh atau terbentuk selama proses produksi. Sifat-sifat ini lebik menentukan fungsi produk daripada komposisi kimianya
Bahan berbahaya yang didefinisikan di atas memiliki satu sifat atau lebih yang ditandai dengan simbol-simbol bahaya
Simbol bahaya adalah piktogram dengan tanda hitam pada latar belakang oranye, kategori bahaya untuk bahan dan formulasi ditandai dengan simbol bahaya, yang terbagi dalam
• Resiko kebakaran dan ledakan (sifat fisika-kimia)
• Resiko kesehatan (sifat toksikologi) atau
• Kombinasi dari keduanya.
Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya termasuk notasi bahaya dan huruf kode (catatan: huruf kode bukan bagian dari simbol bahaya)
Inflammable substances (bahan mudah terbakar)
Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi, bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable substances) juga termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances) tetapi penggunaan simbol bahaya tidak diperlukan untuk bahan-bahan tersebut.
Explosive (bersifat mudah meledak)
Huruf kode: E
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya „explosive“ dapat meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak sangat cepat. Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode yang diberikan dalam Law for Explosive Substances
Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter, etanol, dll. Produksi atau bekerja dengan bahan mudah meledak memerlukan pengetahuan dan pengalaman praktis maupun keselamatan khusus. Apabila bekerja dengan bahan-bahan tersebut kuantitas harus dijaga sekecil/sedikit mungkin baik untuk penanganan maupun persediaan/cadangan.
Frase-R untuk bahan mudah meledak : R1, R2 dan R3
Sebagai contoh untuk bahan yang dijelaskan di atas adalah 2,4,6-trinitro toluena (TNT)
Oxidizing (pengoksidasi)
Huruf kode: O
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya „oxidizing“ biasanya tidak mudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat mudah terbakar mereka dapat meningkatkan resiko kebakaran secara signifikan. Dalam berbagai hal mereka adalah bahan anorganik seperti garam (salt-like) dengan sifat pengoksidasi kuat dan peroksida-peroksida organik.
Frase-R untuk bahan pengoksidasi : R7, R8 dan R9
Contoh bahan tersebut adalah kalium klorat dan kalium permanganat juga asam nitrat pekat.
Extremely flammable (amat sangat mudah terbakar)
Huruf kode:F+
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya „extremely flammable “ merupakan likuid yang memiliki titik nyala sangat rendah (di bawah 0o C) dan titik didih rendah dengan titik didih awal (di bawah +35oC). Bahan amat sangat mudah terbakar berupa gas dengan udara dapat membentuk suatu campuran bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal.
Frase-R untuk bahan amat sangat mudah terbakar : R12
Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah dietil eter (cairan) dan propane (gas)
Highly flammable (sangat mudah terbakar)
Huruf kode: F
Bahan dan formulasi ditandai dengan notasi bahaya ‘highly flammable’ adalah subyek untuk self-heating dan penyalaan di bawah kondisi atmosferik biasa, atau mereka mempunyai titik nyala rendah (di bawah +21oC). Beberapa bahan sangat mudah terbakar menghasilkan gas yang amat sangat mudah terbakar di bawah pengaruh kelembaban. Bahan-bahan yang dapat menjadi panas di udara pada temperatur kamar tanpa tambahan pasokan energi dan akhirnya terbakar, juga diberi label sebagai ‘highly flammable’
Frase-R untuk bahan sangat mudah terbakar : R11
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya aseton dan logam natrium, yang sering digunakan di laboratorium sebagai solven dan agen pengering.
Flammable (mudah terbakar)
Huruf kode: tidak ada
Tidak ada simbol bahaya diperlukan untuk melabeli bahan dan formulasi dengan notasi bahaya ‘flammable’. Bahan dan formulasi likuid yang memiliki titik nyala antara +21oC dan +55oC dikategorikan sebagai bahan mudah terbakar (flammable)
Frase-R untuk bahan mudah terbakar : R10
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya minyak terpentin.
Bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan
Pengelompokan bahan dan formulasi menurut sifat toksikologinya terdiri dari akut dan efek jangka panjang, tidak bergantung apakah efek tersebut disebabkan oleh pengulangan, tunggal atau eksposisi jangka panjang. Suatu parameter penting untuk menilai toksisitas akut suatu zat adalah harga LD50 nya yang ditentukan dalam percobaan pada hewan uji. Harga LD50 merefleksikan dosis yang mematikan dalam mg per kg berat badan yang akan menyebabkan kematian 50% dari hewan uji, antara 14 hari setelah one single administration. Akibat desain uji orang dapat membedakan antara pengeluaran (uptake LD50 oral dan digesti melalui sistem gastrointestinal, seta LD50 dermal untuk uptake (pengeluaran) melalui kulit).
Disamping dua hal tersebut ada juga suatu konsentrasi yang mematikan (lethal concentration) LC50 pulmonary (inhalasi) yang merefleksikan konsentrasi suatu polutan di udara (mg/L) yang akan menyebabkan kematian 50% dari hewan uji dalam waktu antara 14 hari setelah 4 jam eksposisi.
Istilah bahan berbahaya untuk kesehatan termasuk sub-grup bahan bersifat sangat beracun (very toxic substances), bahan beracun (toxic substances) dan bahan berbahaya (harmful substances)
Very toxic (sangat beracun)
Huruf kode: T+
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘very toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.
Suatu bahan dikategorikan sangat beracun jika memenuhi kriteria berikut:
LD50 oral (tikus) ≤ 25 mg/kg berat badan
LD50 dermal (tikus atau kelinci) ≤ 50 mg/kg berat badan
LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu ≤ 0,25 mg/L
LC50 pulmonary (tikus) untuk gas/uap ≤ 0,50 mg/L
Frase-R untuk bahan sangat beracun : R26, R27 dan R28
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium sianida, hydrogen sulfida, nitrobenzene dan atripin
Toxic (beracun)
Huruf kode: T
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.
Suatu bahan dikategorikan beracun jika memenuhi kriteria berikut:
LD50 oral (tikus) 25 – 200 mg/kg berat badan
LD50 dermal (tikus atau kelinci) 50 – 400 mg/kg berat badan
LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu 0,25 – 1 mg/L
LC50 pulmonary (tikus) untuk gas/uap 0,50 – 2 mg/L
Frase-R untuk bahan beracun : R23, R24 dan R25
Bahan dan formulasi yang memiliki sifat
Karsinogenik (Frase-R :R45 dan R40)
Mutagenik (Frase-R :R47)
Toksik untuk reproduksi (Frase-R :R46 dan R40) atau
Sifat-sifat merusak secara kronis yang lain (Frase-R :R48)
ditandai dengan simbol bahaya ‘toxic substances’ dan kode huruf T.
Bahan karsinogenik dapat menyebabkan kanker atau meningkatkan timbulnya kanker jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut dan kontak dengan kulit.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya solven-solven seperti metanol (toksik) dan benzene (toksik, karsinogenik).
Harmful (berbahaya)
Huruf kode: Xn
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘harmful’ memiliki resiko merusak kesehatan sedang jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.
Suatu bahan dikategorikan berbahaya jika memenuhi kriteria berikut:
LD50 oral (tikus) 200-2000 mg/kg berat badan
LD50 dermal (tikus atau kelinci) 400-2000 mg/kg berat badan
LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu 1 – 5 mg/L
LC50 pulmonary (tikus) untuk gas/uap 2 – 20 mg/L
Frase-R untuk bahan berbahaya : R20, R21 dan R22
Bahan dan formulasi yang memiliki sifat
Karsinogenik (Frase-R :R45 dan R40)
Mutagenik (Frase-R :R47)
Toksik untuk reproduksi (Frase-R :R46 dan R40) atau
Sifat-sifat merusak secara kronis yang lain (Frase-R:R48)
yang tidak diberi notasi toxic, akan ditandai dengan simbol bahaya ‘harmful substances’ dan kode huruf Xn.
Bahan-bahan yang dicurigai memiliki
sifat karsinogenik,
juga akan ditandai dengan simbol bahaya ‘harmful substances’ dan kode huruf Xn,
bahan pemeka (sensitizing substances) (Frase-R :R42 dan R43)
diberi label menurut spektrum efek apakah dengan simbol bahaya untuk ‘harmful substances’ dan kode huruf Xn atau dengan simbol bahaya ‘irritant substances’ dan kode huruf Xi.
Bahan yang dicurigai memiliki sifat karsinogenik dapat menyebabkan kanker dengan probabilitas tinggi melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion) atau kontak dengan kulit.
Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya solven 1,2-etane-1,2-diol atau etilen glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya, dicurigai karsinogenik).
Bahan-bahan yang merusak jaringan (tissue destroying substances)
‘tissue destroying substances’ meliputi sub-grup bahan korosif (corrosive substances) dan bahan iritan (irritant substances)
Corrosive (korosif)
Huruf kode: C
Bahan dan formulasi dengan notasi ‘corrosive’ adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik kimia bahan uji, seperti asam (pH <2) dan basa (pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif.
Frase-R untuk bahan korosif : R34 dan R35.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH (>2%).
Irritant (menyebabkan iritasi)
Huruf kode : Xi
Bahan dan formulasi dengan notasi ‘irritant’ adalah tidak korosif tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir.
Frase-R untuk bahan irritant : R36, R37, R38 dan R41
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida dan asam dan basa encer.
Bahan berbahaya bagi lingkungan
Huruf kode: N
Bahan dan formulasi dengan notasi ‘dangerous for environment’ adalah dapat menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen lingkungan atau lebih (air, tanah, udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi
Frase-R untuk bahan berbahaya bagi lingkungan : R50, R51, R52 dan R53.
Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda, tetraklorometan, dan petroleum hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.
EVALUASI DAN KLASIFIKASI LIMBAH KIMIA
Pendahuluan
Evaluasi limbah sangat penting untuk tujuan daur ulang atau pembuangan dengan cara yang sesuai. Penghasil dan penyedia bahan berbahaya tersebut bertanggung jawab untuk klasifikasi dan penilaian yang benar.
Klasifikasi limbah menurut peraturan untuk bahan-bahan berbahaya (the Ordinance for Dangerous Goods)
Dasar untuk penilaian limbah menurut peraturan tentang bahan berbahaya adalah sifat-sifat bahaya seperti:
Sifat mudah terbakar (flammability/combustibility)
Sifat pengoksidasi
Toksisitas
Korosifitas
Pembentukan gas mudah terbakar jika kontak dengan air
Kontaminasi dengan bahan penyebab infeksi dan patogenik
Radiasi radioaktif
Sifat polusi air
Melepaskan debu berbahaya
Diferensiasi lanjut di antara golongan bahan berbahaya dapat dibuat melalui daftar bahan. Daftar ini tidak hanya mengandung bahan yang terdefinisi dengan baik (misalnya gasoline, titik didih 60-100oC) tetapi juga meringkas kategori, seperti produk petroleun, tidak dijelaskan lebih lanjut. Klasifikasi dan penilaian limbah berbahaya dibuat menurut sifat fisiko-kimianya (padat/cair, titik didih, titik nyala, data toksisitas).
Penetapan limbah pada salah satu daftar kategori bahaya adalah sulit, jika mereka merupakan campuran padatan atau cairan (larutan). Peraturan bahan berbahaya memberikan petunjuk bagaimana mengklasifikasi limbah. Tetapi untuk ini perlu mengetahui konstituen dan sifat bahaya limbah. Oleh karena itu klasifikasi limbah berbahaya biasanya merupakan tugas kimiawan. Amatir hanya dapat mengerjakan jika ada kategori tertentu karena biasanya kasusnya untuk limbah umum atau jika bahan dapat ditentukan dengan metode uji sederhana.
Untuk limbah transportasi jalan ada petunjuk khusus seperti peraturan bahan berbahaya untuk transportasi jalan atau jalan kereta api (dangerous goods ordinance for road and railroad transportation), yang memerlukan evaluasi dan klasifikasi bahan berbahaya. Jadi, limbah berbahaya harus ditentukan untuk kelas bahaya sesuai dengan sifat bahayanya.
Tabel 1. contoh limbah dalam klas bahan berbahaya yang berbeda
Klas Notasi Contoh
1 Explosive substances and materials containing explosive Kembang api, amunisi
2 Gases Propane, butane, asetilen
3. Flammable liquid substances Alcohol, aseton
4.1 Flammable solid substances Limbah nitroselulosa, limbah karet
4.2 Self-igniting substances Limbah seluloid ,limbah katun yang mengandung minyak
4.3 Substances forming flammable gases Limbah kalsium karbida, logam alkali
5.1 Oxidizing substances Formulasi mengandung ammonium nitrat
5.2 Organic peroxides Asam peroksiasetat
6.1 Toxic substances Kontainer kosong bekas pestisida yang tidak bersih, kemikalia tertentu
6.2 Infectious materials Limbah rumah sakit (material bekas operasi, syringe, jarum suntik)
7 Radioactive materials Limbah radioaktif dengan spesifik aktivitas rendah (mis tritium dari riset biologi)
8 Corrosive substances Asam nitrat, asam sulfat
9 Various hazardous substances and materials Asbes, berbagai bahan polutan air
Klasifikasi limbah menurut organisasi kerjasama dan pengembangan ekonomi, OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)
Di dalam OECD ada istilah yang disebut ‘traffic light lists’ yang harus diikuti selagi transboundary transportasi limbah. Untuk limbah yang dapat di daur ulang ada kontrol yang berorientasi pada sifat bahaya limbah dan yang didaftar dalam 3 warna (daftar hijau, kuning dan merah)
Daftar hijau
Limbah yang dikategori ke dalam daftar hijau menurut persetujuan OECD tidak akan dikontrol. Kategori ini terdiri dari material seperti potongan logam, baja, logam non-besi, plastic, kertas, kaca, tekstil dan kayu. Bahan berbahaya seperti limbah kimia tidak termasuk dalam kategori ini.
Daftar kuning
Limbah ini perlu suatu kontrol terbatas dan perlu persetujuan dari negara penerima. Limbah dalam kelompok ini antara lain abu, kotoran/endapan, debu logam non-besi, arsen, merkuri, limbah minyak, dan limbah lain yang mengandung kurang dari 50 mg/kg polychlorinated biphenyl (PCB), polychlorinated terphenyl (PCT) dan polybrominated biphenyl (PBB).
Daftar merah
Limbah dalam kategori ini harus dikelola sebagaimana limbah untuk tujuan pembuangan. Transportasi hanya diijinkan jika negara penyedia maupun negara penerima telah menyetujui dan dinyatakan dalam pernyataan tertulis. Limbah ini terutama terdiri dari limbah yang mengandung lebih dari 50 mg/kg PCB/PCT, dan yang mengandung polyhalogenated dibenzo-p-dixon, furan, sianida, dan asbes.
Klasifikasi limbah menurut TRGS 201 (Juli 2002)
Dalam TGRS 201 (Technical Directive for Hazardous Substances) diberikan pedoman untuk klasifikasi dan pelabelan limbah untuk tujuan pembuangan. Pedoman itu juga berlaku untuk limbah-limbah yang digunakan untuk memperoleh energi termal, tetapi tidak berlaku bagi limbah untuk mendaur ulang material. Klasifikasi diorientasikan pada resiko yang mungkin muncul. Resiko paling tinggi yang mungkin terjadi menentukan klasifikasi.
Tabel 2. Kemungkinan resiko yang muncul dari limbah.
Resiko fisiko-kimia Resiko Kesehatan Resiko Lingkungan
Huruf kode untuk simbol bahaya Keterangan bahaya Huruf kode untuk simbol bahaya Keterangan bahaya Huruf kode untuk simbol bahaya Keterangan bahaya
E Eksplosif /mudah meledak (Explosive) T+ Sangat beracun (Very toxic) N Bahaya untuk lingkungan
O Pengoksidasi (Oxidizing ) T Beracun (Toxic) R52-53: bahaya bagi organisme akuatik, dapat menyebabkan efek merugikan dalam jangka panjang di dlm lingkungan perairan
F+ Amat sangat mudah terbakar (Extremely flammable) C Korosif (Corrosive) R53: dapat menyebabkan efek merugikan dalam jangka panjang di dlm lingkungan perairan
F Sangat mudah terbakar (Highly flammable) Xn Berbahaya (Harmful) R59: berbahaya untuk lapisan ozon
Mudah terbakar
R10: flammable Xi Iritan (Irritant)
Sesuai aturan, tidak lebih dari satu keterangan bahaya diseleksi tiap kelompok
Tidak termasuk konstituen dalam limbah yang mengalami reaksi berbahaya antara satu dengan yang lain
Cari
Jumat, 11 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
kalimat bervariasi
KALIMAT BERVARIASI
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea kalimat yang bervariasi itu merupakan “santapan” yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan. Dengan demikian mampu membuka selera pembaca.
Pada hakikatnya seorang penulis adalah seorang pembaca. Dan seorang penulis yang efektif otomatis merupakan seorang pembaca yang terbaik. Ia menyadari, membaca merupakan sejenis kerja mental yang bera; memahami maksud sebuah bacaan memang sering kali sukar. Biasanya penulis yang baik itu selalu ingat, membaca itu meletihkan, membosankan, dan acap kali orang merasakan perbuatan membaca sebagai beban mental yang tidak selalu menyenangkan. Oleh sebab itu, pengarang sedapatnya berusaha menghalau keletihan dan kebosanan tadi.
Yang menjadi pangkal persoalan disini ialah bagaimana agar alinea demi alinea dari bacaan yang kita buat itu cukup menarik untuk dibaca. Penulis profesional umumnya mengusahakan hal itu melalui variasi kalimatnya, terutama dalam segi :
(1) cara memulainya,
(2) ukuran panjang singkatnya,
(3) struktur atau polanya, dan
(4) jenisnya.
1. Variasi dalam Cara Memulai
Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan :
(1) subyek,
(2) predikat,
(3) sebuah kata modalitas,
(4) sebuah frase,
(5) sebuah klausa, dan
(6) penekanan yang efektif.
Penulis yang berpengalaman, menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi. Agar lebih jelas, marilah kita lihat penjelasan berikut ini.
1.1 Memulai Kalimat dengan Subyek
Perhatikan contoh berikut, yang semuanya dimulai dengan subyek:
a. Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b. Mencari kekayaan adalah hal yang normal.
c. Orang kaya bukanlah orang yang jahat.
d. Tuhan tidakkah akan memberkati orang yang bekerja dengan tekun dan jujur?
Kalimat yang dimulai dengan cara subyeknya terletak di bagian depan, sangat banyak dipakai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Ini merupakan cara yang umum dan barang kali orisinal di dalam memulai kalimat. Maka cara-cara lain dalam memulai kalimat adalah merupakan variasi saja dalam menghasilkan komunikasi yang efektif.
Di dalam suatu karangan, tegasnya di dalam sebuah alinea, kalimat itu sudah lain situasinya, dibanding ketika berdiri sendiri-sendiri. Di dalam sebuah karangan, kalimat itu sudah terikat oleh hubungan kerja sama, suatu situasi, dan suatu tema atau topik. Situasi itu langsung mempengaruhi pembaca. Jadi efek yang ditimbulkan bukan lagi oleh masing-masing kalimat, melaiankan situasi yang membentuk kerja sama tadi. Kerja sama yang lancar akan memberikan kesan yang menyenangkan. Dan sebaliknya kerja sama yang tidak lancar, kaku memberikan kesan yang kurang ramah, dan menegangkan. Variasi dapat menciptakan keramahan dan menghalau ketegangan.
1.2 Memulai Kalimat dengan Predikat
Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, kalimat dapat diawali dengan predikat. Dapat pula dimulai dengan membalikkan predikat ke depan, kemudian subyeknya menyusul dan seterusnya disusul lagi dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Kalimat yang dimulai dengan predikat itulah yang disebut inversi. Unsur inversi bukan hanya terdapat pada permulaan kalimat, tetapi bisa juga di tengah.
1.3 Memulai Kalimat dengan Sebuah Kata Modal
Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea penulis dapat menggunakan sebuah kata modla untuk mengawali kalimatnya. Perbandinga di bawah ini dapat memberi petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai kalimat yang diawali dengan sebuah kata modal.
Dengan Sebuah Kata Modal
Dengan Subyek
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Persoalan itu Agaknya akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.
Semua kata yang dicetak tebal berfungsi sebagai kata modal dalam kalimat yang bersangkutan. Di dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang dapat berfungsi selaku modal. Fungsinya ialah untuk untuk memberi warna, sehingga pengertian kalimat itu seluruhnya dapat diubah. Berbagai macam sikap bisa kita lukiskan menggunakan kata modal di dalam sebuah kalimat: keragu-raguan, kepastian, kesungguhan, keharusan, keharuan, dan sebagainya.
Untuk menyatakan keragu-raguan : agaknya, barangkali, kira-kira, mungkin, rsanya.
Untuk menyatakan kepastian: tentu, pernah, pasti, jarang, betul, sekali-kali, sering.
Untuk menyatakan kesungguhan: sungguh, sesungguhnya, sekali-kali, benar, sebenarnya, lambat-laun, lama-lama.
Demikian antara lain bentuk kata modal, baik di tengah-tengah kalimat maupun untuk memberikan variasi dalam memulai sebuah alinea.sebuah kata yang bisa mengubah arti keseluruhan sebuah kalimat, maka kata itu dapat digolongkan sebagai kata modal dan dapat ditempatkan pada posisi awal sebuah kalimat. Namun kata itu bukanlah sebuah subyek dan bukan pula predikat.
1.4 Memulai Kalimat dengan Sebuah Frase
Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakanuntuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea. Kalimat yang dimulai dengan frase dapat ditempatkan pada permulaan alinea,di tengah atau pada bagian akhirnya. Di dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu kalimat yang diawali dengan sebuah frase. Namun yang menjadi soal di sini bukanlah segi banyaknya, melainkan pemanfaatan sebuah frase dalam variasi kalimat.
Anda, mungkin akan menemukan bermacam-macam frase pada awal kalimat, dan semuanya dapat dilihat dari sudut variasi, untuk lebih jelas, perhatikan contoh dibawah ini ;
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
Sampai batas-batas yang luas, filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Pada musim panas tahun 1969, saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris.
Semua kelompok kata yang dicetak tebal pada contoh di atas di sebut frase. Karena letaknya di bagian depan maka disebut frase depan. Sebuah frase tidak selamanya terdapat di depan kalimat, melainkan bisa juga di tengah atau di akhir kalimat. Berikut ini adalh contoh frase yang menempati posisi tengah dan akhir.
Anak itu terus membuntuti ibunya sambil menghapus air mata.
Filsafat sampai batas-batas yang luas boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris selama musim panas tahun 1969.
Tata bahasa biasanya mengajarkan berbagai macam keterangan predikat yang sering kali kita lihat dalam bentuk frase. Diantaranya ada yang bernama keterangan waktu, keerangan sebab, keterangan perihal, keterangan kualitas dan banyak istilah yang lain.
Tata bahas juga membuat perbedaan antara frase dan kalimat. Pertama, frase itu sering kali merupakan bagian dari sebuah kalimat. Kedua, sebuah frase belum memiliki pengertian yang lengkap. Dan ketiga, di dalam sebuah frase tidak terdapat subyek dan predikat.
1.5 Memulai Kalimat dengan Sebuah Klausa
Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa juga bisa menempati posisi awal sebuah kalimat. Seuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, tidak soal apakah letaknya di depan, di tengah, atau di belakang. Namun untuk keperluan variasi kalimat di dalam sebuah alinea klausa bisa di gusur ke bagian depan. Contoh kalimat yang dimulai dengan sebuah klausa ialah:
Dalam lapangan apa pun kita bekerja, perbuatan kita sehari-hari akan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan, dean sebagainya. (Drs. Jazir Burhan)
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. (W.J.S. Poerwadarminta)
Kalau pertumbuhan bahasa Indonesia dibiarkan semaunya saja seperti selama ini, bahasa Indonesia akan jatuh kembali hanya menjadi bahasa pergaulan saja. (Ajib Rosidi)
Dalam contoh ini, semua kelompok kata yang dicetak tebal adalah sebuah klausa. Tata bahasa juga membuat perbedaan antara klausa dan sebuah frase. Perbedaan itu dapat dilihat dalam perbandingan di bawah ini:
Klausa
Frase
Dalam lapangan apapun kita bekerja
Dalam lapangan olahraga
Walaupun umurnya sudah tua
Walaupun demikian
Seandainya manusia tiada berbahasa
Kalau begitu
Jika karangan telah selesai ditulis
Jika telah selesai
Jelaslah bahwa antara klausa dan frase terdapat sedikit perbedaan. Di dalam sebuah klausa terdapat unsur subyek dan predikat, sedangkan frase tidak. Klausa adalah sebuah kalimat yang telah dimasuki oleh sebuah kata penghubung. Bila kata penghubung itu dihilangkan sebuah klausa akan berubah menjadi sebuah kalimat sederhana. Contoh:
Klausa
Kalimat
Walaupun umurnya sudah tua
Umurnya sudah tua.
Pada waktu kami sampai di sekolah
Kami sampai di sekolah.
Karena semua sudah selesai
Semuanya sudah selesai.
Sebelum orang tuanya meninggal
Orang tuanya meninggal
Kata penghubung yang sering digunakan dalam membentuk sebuah klausa misalnya kata setelah, seandainya, ketika, lantaran,. Agar, sekalipun, bagaikan, dan kata lain yang sekeluarga.
wadarminta)
ini. kan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan,
1.6 Memulai Kalimat dengan Penekanan yang Efektif
Kalimat di dalam sebuah alinea bukan tidak pernah dimulai dengan subyek saja. Ini bukanlah suatu kekecualian. Bila terdapat sebuah alinea yang kalimatnya selalu diawali dengan subyek, itu menandakan ada efek lain yang inga\in dikejar penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prisip-prinsip variasi, tapi untuk memburu keefektifan, tidak ada salahnya. Bahasa tidak diikat oleh keteraturan-keteraturan yang kaku. Bila perlu, sanggup melawan prinsip demi fungsinya sebagai alat komunikasi. Bila suatu cara dianggap efektif untuk suatu maksud, dan itu perlu dilaksanakan, maka di sana ketentuan-ketentuan tata bahasa atau ketentuan-ketentuan apapun tidak berdaya menghalanginya. Didalam bahasa memang sering terjadi dari norma-norma. Terjadinya penyimpangan itu adalah karena keinginan memburu efek yang maksimal, sehingga mampu memberikan gambaran yang senyata-nyatanya. Penekanan ini, ternyata efektif, lalu kita sebut penekanan yang efektif.
2 Variasi dalam Panjang-pendek Kalimat
Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempergunakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang dalam sebuah alinea. Kalimat panjang maupun singkat mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kerjasama kedua kalimat yang berbeda ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.
2.1 Keefektifan kalimat Singkat
Kalimat singkat memainkan peranan tertentu dalam sebuah karangan. Misalnya dalam sebuah alinea kalimat singkat tidak sama tugas serta fungsinya dengan kalimat panjang. Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatiff, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kalimat singkatlah yang melaksanakan. Disamping memberikan variasi, kalimat singkat juga akan menjadikan karangn lebih komunikatif.
2.2 Keefektifan Kalimat Panjang
Tiap penegasan tentu memerlukan uraian dan perincian. Inilah terutama tugas serta fungsi kalimat panjang dalam sebuah alinea. Tugas kalimat panjang yaitu harus memberikan uraian, ulasan, analisa, detil, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya. Memang kalimat panjanglah yang lebih tepat untuk tugas ini buat memperjelas,memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih terang serta meyakinkan.
Bagaimana kalimat yang lebih panjang memberikan uraian, perincian, ulasan, fakta, dan sebagainya. Agar lebih jelas, perhatikan contoh yang ditampilkan dengan menderetkannya ke bawah, supaya lebih mudah membandingkannya.
Menekankan : è Bertemu dengan buku tak ubahnya bertemu dengan seorang manusia.
Merinci : è Kita boleh suka atau tidak suka kepadanya, setelah mengadakan pertemuan dengan seseorang, tapi terlebih dahulu kita harus mendengarkan ia bicara.
Menekankan : è Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui orang lebih dalam tentangnya.
Merinci : è ada orang yang pada pandangan pertama saja menimbulkan simpati atau antipati pada diri kita, tapi tak mustahil kesan itu berubah setelah kita berbicara dan bertemu dengannya.
Menekankan : è Demikian juga dengan buku
è sebelum membacanya, perasaan antipati sebaiknya disimpan dulu.
è Mungkin berubah kalau kita sudah membacanya.
Merinci : è Dan kalaupun kelak tetap tidak menyukainya, kita akan dapat mengemukakan sebab-musababnya.
è Adalah lebih baik kita tidak menyukai sesuatu atau seseorang setelah kita mengetahui sebab-musababnya daripada secara apriori belaka.
Menekankan : è Apalagi menyukainya!
Peranan yang dimaikan oleh kalimat yang lebih panjang dibanding dengan kalimat yang lebih singkat, jelas sekali pada contoh ini.
, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya.
3 Variasi dalam Struktur Kalimat
Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Ini senantiasa dijadikan sasaran apabila mereka menginginkan karagaman struktur. Yang di dalamnya bisa dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat gabung. Keragaman juga melingkupi berbagai macam pola lain yang terbentuk akibat menggeser unsur-unsur tertentu. Misalnya, pola yang tersusun akibat cara memulainya yang khusus. Termasuk pola yang kita kenal dengan istilah inversi, kalimat aktif, dan kalimat pasif.
4 Variasi dalam jenis kalimat
Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat dapat menghasilkan berbagai jenis variasi. Di samping kalimat berita, juga digunakan kalimat tanya, kalimat pinta, dan kalimat seru. Begitu pula di samping kalimat tidak langsung juga digunakan kalimat langsung. Berdasarkan fungsinya kalimat dibedakan menjadi empat jenis.
Kalimat berita, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu.
Kalimat pinta, fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan lain sebagainya.
Kalimat tanya, kalimat yang menyatakan pertanyaan.
Kalimat seru, berfungsi menyatakan perasaan yang kuat. Misalnya perasaan haru, kagum, heran, benci, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Disamping kalimat tersebut, ada lagi kallimat lain yang di sebut kalimat langsung dan tidak langsung. Disebut kalimat langsung apabila menyatakan ucapan-ucapan orang lain menurut apa adanya. Bila ucapan seseorang dilukiskan dengan kata-kata dan kalimat sendiri, dengan maksud yang sama maka hasilnya adalah kalimat tidak langsung.
4.1 Variasi dengan Kalimat Tanya
Kalimat tanya ternyata efektif untuk menghasilkan variasi kalimat dalam karya tulis. Memang sukar untuk menampilkan kalimat tanya dalam setiap alinea karangan. Dalam tiap karangan biasanya selalu ada bagian yang khusus memberikan informasi. Di sini kalimat beritalah yang terutama memainkan peranan. Akan tetapi, sebuah karangan tidak begitu menarik apabila di dalamnya hanya terdapat kalimat berita atau ditambah dengan kalimat pinta bagaimanapun halusnya cara penyampaiannya. Dengan kalimat berita saja, penulis berarti omong sepihak saja. Untuk itu kalimat tanya diikutsertakan. Dengan sekali-kali menampilkan kalimat tanya berarti pembaca seakan-akan diajak turut serta dalam pembicaraan itu. Kalimat tanya tidak selamanya bersifat menanyakan karena tidak tahu, akan tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan variasi. Sebuah kalimat tanya misalnya, mengapa, apakah, bukankah, benarkah, bagaimana kalau, dan lain sebagainya.
4.2 Variasi dengan Kalimat Seru
Namanya saja kalimat seru. Suatu permainan bisa menjadi lebih seru manakal ia dapat berperan secara tepat. Dalam sebuah karangan, kalimat seru bukan membuat bacaan menjadi lebih seru, melainkan berfungsi membahasakan ekspresi-emosional yang kuat.
4.3 Variasi dengan Kalimat Langsung
Variasi dengan kalimat langsung dapat diuashakan dengan kalimat langsung. Dalam memaparkan ucapan atau pendapat orang tentang sesuatusoa, penggambaran dengan kalimat langsung biasanya lebih kongkret. Banyak sumber untuk menghasilkan kalimat langsung dalam suatu karya tulis. Seperti hasil wawancara, atau tanya-jawab, pidato, atau ceramah, sebuah buku, ucapan seorang pelaku dari sebuah cerita fiksi. Beberapa ucapan yang kita rasa penting, dan yang kita anggap ucapan ekspresif, kita tampilkan dalam bentuk kalimat langsung.
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea kalimat yang bervariasi itu merupakan “santapan” yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan. Dengan demikian mampu membuka selera pembaca.
Pada hakikatnya seorang penulis adalah seorang pembaca. Dan seorang penulis yang efektif otomatis merupakan seorang pembaca yang terbaik. Ia menyadari, membaca merupakan sejenis kerja mental yang bera; memahami maksud sebuah bacaan memang sering kali sukar. Biasanya penulis yang baik itu selalu ingat, membaca itu meletihkan, membosankan, dan acap kali orang merasakan perbuatan membaca sebagai beban mental yang tidak selalu menyenangkan. Oleh sebab itu, pengarang sedapatnya berusaha menghalau keletihan dan kebosanan tadi.
Yang menjadi pangkal persoalan disini ialah bagaimana agar alinea demi alinea dari bacaan yang kita buat itu cukup menarik untuk dibaca. Penulis profesional umumnya mengusahakan hal itu melalui variasi kalimatnya, terutama dalam segi :
(1) cara memulainya,
(2) ukuran panjang singkatnya,
(3) struktur atau polanya, dan
(4) jenisnya.
1. Variasi dalam Cara Memulai
Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan :
(1) subyek,
(2) predikat,
(3) sebuah kata modalitas,
(4) sebuah frase,
(5) sebuah klausa, dan
(6) penekanan yang efektif.
Penulis yang berpengalaman, menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi. Agar lebih jelas, marilah kita lihat penjelasan berikut ini.
1.1 Memulai Kalimat dengan Subyek
Perhatikan contoh berikut, yang semuanya dimulai dengan subyek:
a. Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b. Mencari kekayaan adalah hal yang normal.
c. Orang kaya bukanlah orang yang jahat.
d. Tuhan tidakkah akan memberkati orang yang bekerja dengan tekun dan jujur?
Kalimat yang dimulai dengan cara subyeknya terletak di bagian depan, sangat banyak dipakai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Ini merupakan cara yang umum dan barang kali orisinal di dalam memulai kalimat. Maka cara-cara lain dalam memulai kalimat adalah merupakan variasi saja dalam menghasilkan komunikasi yang efektif.
Di dalam suatu karangan, tegasnya di dalam sebuah alinea, kalimat itu sudah lain situasinya, dibanding ketika berdiri sendiri-sendiri. Di dalam sebuah karangan, kalimat itu sudah terikat oleh hubungan kerja sama, suatu situasi, dan suatu tema atau topik. Situasi itu langsung mempengaruhi pembaca. Jadi efek yang ditimbulkan bukan lagi oleh masing-masing kalimat, melaiankan situasi yang membentuk kerja sama tadi. Kerja sama yang lancar akan memberikan kesan yang menyenangkan. Dan sebaliknya kerja sama yang tidak lancar, kaku memberikan kesan yang kurang ramah, dan menegangkan. Variasi dapat menciptakan keramahan dan menghalau ketegangan.
1.2 Memulai Kalimat dengan Predikat
Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, kalimat dapat diawali dengan predikat. Dapat pula dimulai dengan membalikkan predikat ke depan, kemudian subyeknya menyusul dan seterusnya disusul lagi dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Kalimat yang dimulai dengan predikat itulah yang disebut inversi. Unsur inversi bukan hanya terdapat pada permulaan kalimat, tetapi bisa juga di tengah.
1.3 Memulai Kalimat dengan Sebuah Kata Modal
Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea penulis dapat menggunakan sebuah kata modla untuk mengawali kalimatnya. Perbandinga di bawah ini dapat memberi petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai kalimat yang diawali dengan sebuah kata modal.
Dengan Sebuah Kata Modal
Dengan Subyek
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Persoalan itu Agaknya akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.
Semua kata yang dicetak tebal berfungsi sebagai kata modal dalam kalimat yang bersangkutan. Di dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang dapat berfungsi selaku modal. Fungsinya ialah untuk untuk memberi warna, sehingga pengertian kalimat itu seluruhnya dapat diubah. Berbagai macam sikap bisa kita lukiskan menggunakan kata modal di dalam sebuah kalimat: keragu-raguan, kepastian, kesungguhan, keharusan, keharuan, dan sebagainya.
Untuk menyatakan keragu-raguan : agaknya, barangkali, kira-kira, mungkin, rsanya.
Untuk menyatakan kepastian: tentu, pernah, pasti, jarang, betul, sekali-kali, sering.
Untuk menyatakan kesungguhan: sungguh, sesungguhnya, sekali-kali, benar, sebenarnya, lambat-laun, lama-lama.
Demikian antara lain bentuk kata modal, baik di tengah-tengah kalimat maupun untuk memberikan variasi dalam memulai sebuah alinea.sebuah kata yang bisa mengubah arti keseluruhan sebuah kalimat, maka kata itu dapat digolongkan sebagai kata modal dan dapat ditempatkan pada posisi awal sebuah kalimat. Namun kata itu bukanlah sebuah subyek dan bukan pula predikat.
1.4 Memulai Kalimat dengan Sebuah Frase
Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakanuntuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea. Kalimat yang dimulai dengan frase dapat ditempatkan pada permulaan alinea,di tengah atau pada bagian akhirnya. Di dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu kalimat yang diawali dengan sebuah frase. Namun yang menjadi soal di sini bukanlah segi banyaknya, melainkan pemanfaatan sebuah frase dalam variasi kalimat.
Anda, mungkin akan menemukan bermacam-macam frase pada awal kalimat, dan semuanya dapat dilihat dari sudut variasi, untuk lebih jelas, perhatikan contoh dibawah ini ;
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
Sampai batas-batas yang luas, filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Pada musim panas tahun 1969, saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris.
Semua kelompok kata yang dicetak tebal pada contoh di atas di sebut frase. Karena letaknya di bagian depan maka disebut frase depan. Sebuah frase tidak selamanya terdapat di depan kalimat, melainkan bisa juga di tengah atau di akhir kalimat. Berikut ini adalh contoh frase yang menempati posisi tengah dan akhir.
Anak itu terus membuntuti ibunya sambil menghapus air mata.
Filsafat sampai batas-batas yang luas boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris selama musim panas tahun 1969.
Tata bahasa biasanya mengajarkan berbagai macam keterangan predikat yang sering kali kita lihat dalam bentuk frase. Diantaranya ada yang bernama keterangan waktu, keerangan sebab, keterangan perihal, keterangan kualitas dan banyak istilah yang lain.
Tata bahas juga membuat perbedaan antara frase dan kalimat. Pertama, frase itu sering kali merupakan bagian dari sebuah kalimat. Kedua, sebuah frase belum memiliki pengertian yang lengkap. Dan ketiga, di dalam sebuah frase tidak terdapat subyek dan predikat.
1.5 Memulai Kalimat dengan Sebuah Klausa
Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa juga bisa menempati posisi awal sebuah kalimat. Seuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, tidak soal apakah letaknya di depan, di tengah, atau di belakang. Namun untuk keperluan variasi kalimat di dalam sebuah alinea klausa bisa di gusur ke bagian depan. Contoh kalimat yang dimulai dengan sebuah klausa ialah:
Dalam lapangan apa pun kita bekerja, perbuatan kita sehari-hari akan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan, dean sebagainya. (Drs. Jazir Burhan)
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. (W.J.S. Poerwadarminta)
Kalau pertumbuhan bahasa Indonesia dibiarkan semaunya saja seperti selama ini, bahasa Indonesia akan jatuh kembali hanya menjadi bahasa pergaulan saja. (Ajib Rosidi)
Dalam contoh ini, semua kelompok kata yang dicetak tebal adalah sebuah klausa. Tata bahasa juga membuat perbedaan antara klausa dan sebuah frase. Perbedaan itu dapat dilihat dalam perbandingan di bawah ini:
Klausa
Frase
Dalam lapangan apapun kita bekerja
Dalam lapangan olahraga
Walaupun umurnya sudah tua
Walaupun demikian
Seandainya manusia tiada berbahasa
Kalau begitu
Jika karangan telah selesai ditulis
Jika telah selesai
Jelaslah bahwa antara klausa dan frase terdapat sedikit perbedaan. Di dalam sebuah klausa terdapat unsur subyek dan predikat, sedangkan frase tidak. Klausa adalah sebuah kalimat yang telah dimasuki oleh sebuah kata penghubung. Bila kata penghubung itu dihilangkan sebuah klausa akan berubah menjadi sebuah kalimat sederhana. Contoh:
Klausa
Kalimat
Walaupun umurnya sudah tua
Umurnya sudah tua.
Pada waktu kami sampai di sekolah
Kami sampai di sekolah.
Karena semua sudah selesai
Semuanya sudah selesai.
Sebelum orang tuanya meninggal
Orang tuanya meninggal
Kata penghubung yang sering digunakan dalam membentuk sebuah klausa misalnya kata setelah, seandainya, ketika, lantaran,. Agar, sekalipun, bagaikan, dan kata lain yang sekeluarga.
wadarminta)
ini. kan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan,
1.6 Memulai Kalimat dengan Penekanan yang Efektif
Kalimat di dalam sebuah alinea bukan tidak pernah dimulai dengan subyek saja. Ini bukanlah suatu kekecualian. Bila terdapat sebuah alinea yang kalimatnya selalu diawali dengan subyek, itu menandakan ada efek lain yang inga\in dikejar penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prisip-prinsip variasi, tapi untuk memburu keefektifan, tidak ada salahnya. Bahasa tidak diikat oleh keteraturan-keteraturan yang kaku. Bila perlu, sanggup melawan prinsip demi fungsinya sebagai alat komunikasi. Bila suatu cara dianggap efektif untuk suatu maksud, dan itu perlu dilaksanakan, maka di sana ketentuan-ketentuan tata bahasa atau ketentuan-ketentuan apapun tidak berdaya menghalanginya. Didalam bahasa memang sering terjadi dari norma-norma. Terjadinya penyimpangan itu adalah karena keinginan memburu efek yang maksimal, sehingga mampu memberikan gambaran yang senyata-nyatanya. Penekanan ini, ternyata efektif, lalu kita sebut penekanan yang efektif.
2 Variasi dalam Panjang-pendek Kalimat
Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempergunakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang dalam sebuah alinea. Kalimat panjang maupun singkat mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kerjasama kedua kalimat yang berbeda ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.
2.1 Keefektifan kalimat Singkat
Kalimat singkat memainkan peranan tertentu dalam sebuah karangan. Misalnya dalam sebuah alinea kalimat singkat tidak sama tugas serta fungsinya dengan kalimat panjang. Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatiff, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kalimat singkatlah yang melaksanakan. Disamping memberikan variasi, kalimat singkat juga akan menjadikan karangn lebih komunikatif.
2.2 Keefektifan Kalimat Panjang
Tiap penegasan tentu memerlukan uraian dan perincian. Inilah terutama tugas serta fungsi kalimat panjang dalam sebuah alinea. Tugas kalimat panjang yaitu harus memberikan uraian, ulasan, analisa, detil, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya. Memang kalimat panjanglah yang lebih tepat untuk tugas ini buat memperjelas,memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih terang serta meyakinkan.
Bagaimana kalimat yang lebih panjang memberikan uraian, perincian, ulasan, fakta, dan sebagainya. Agar lebih jelas, perhatikan contoh yang ditampilkan dengan menderetkannya ke bawah, supaya lebih mudah membandingkannya.
Menekankan : è Bertemu dengan buku tak ubahnya bertemu dengan seorang manusia.
Merinci : è Kita boleh suka atau tidak suka kepadanya, setelah mengadakan pertemuan dengan seseorang, tapi terlebih dahulu kita harus mendengarkan ia bicara.
Menekankan : è Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui orang lebih dalam tentangnya.
Merinci : è ada orang yang pada pandangan pertama saja menimbulkan simpati atau antipati pada diri kita, tapi tak mustahil kesan itu berubah setelah kita berbicara dan bertemu dengannya.
Menekankan : è Demikian juga dengan buku
è sebelum membacanya, perasaan antipati sebaiknya disimpan dulu.
è Mungkin berubah kalau kita sudah membacanya.
Merinci : è Dan kalaupun kelak tetap tidak menyukainya, kita akan dapat mengemukakan sebab-musababnya.
è Adalah lebih baik kita tidak menyukai sesuatu atau seseorang setelah kita mengetahui sebab-musababnya daripada secara apriori belaka.
Menekankan : è Apalagi menyukainya!
Peranan yang dimaikan oleh kalimat yang lebih panjang dibanding dengan kalimat yang lebih singkat, jelas sekali pada contoh ini.
, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya.
3 Variasi dalam Struktur Kalimat
Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Ini senantiasa dijadikan sasaran apabila mereka menginginkan karagaman struktur. Yang di dalamnya bisa dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat gabung. Keragaman juga melingkupi berbagai macam pola lain yang terbentuk akibat menggeser unsur-unsur tertentu. Misalnya, pola yang tersusun akibat cara memulainya yang khusus. Termasuk pola yang kita kenal dengan istilah inversi, kalimat aktif, dan kalimat pasif.
4 Variasi dalam jenis kalimat
Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat dapat menghasilkan berbagai jenis variasi. Di samping kalimat berita, juga digunakan kalimat tanya, kalimat pinta, dan kalimat seru. Begitu pula di samping kalimat tidak langsung juga digunakan kalimat langsung. Berdasarkan fungsinya kalimat dibedakan menjadi empat jenis.
Kalimat berita, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu.
Kalimat pinta, fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan lain sebagainya.
Kalimat tanya, kalimat yang menyatakan pertanyaan.
Kalimat seru, berfungsi menyatakan perasaan yang kuat. Misalnya perasaan haru, kagum, heran, benci, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Disamping kalimat tersebut, ada lagi kallimat lain yang di sebut kalimat langsung dan tidak langsung. Disebut kalimat langsung apabila menyatakan ucapan-ucapan orang lain menurut apa adanya. Bila ucapan seseorang dilukiskan dengan kata-kata dan kalimat sendiri, dengan maksud yang sama maka hasilnya adalah kalimat tidak langsung.
4.1 Variasi dengan Kalimat Tanya
Kalimat tanya ternyata efektif untuk menghasilkan variasi kalimat dalam karya tulis. Memang sukar untuk menampilkan kalimat tanya dalam setiap alinea karangan. Dalam tiap karangan biasanya selalu ada bagian yang khusus memberikan informasi. Di sini kalimat beritalah yang terutama memainkan peranan. Akan tetapi, sebuah karangan tidak begitu menarik apabila di dalamnya hanya terdapat kalimat berita atau ditambah dengan kalimat pinta bagaimanapun halusnya cara penyampaiannya. Dengan kalimat berita saja, penulis berarti omong sepihak saja. Untuk itu kalimat tanya diikutsertakan. Dengan sekali-kali menampilkan kalimat tanya berarti pembaca seakan-akan diajak turut serta dalam pembicaraan itu. Kalimat tanya tidak selamanya bersifat menanyakan karena tidak tahu, akan tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan variasi. Sebuah kalimat tanya misalnya, mengapa, apakah, bukankah, benarkah, bagaimana kalau, dan lain sebagainya.
4.2 Variasi dengan Kalimat Seru
Namanya saja kalimat seru. Suatu permainan bisa menjadi lebih seru manakal ia dapat berperan secara tepat. Dalam sebuah karangan, kalimat seru bukan membuat bacaan menjadi lebih seru, melainkan berfungsi membahasakan ekspresi-emosional yang kuat.
4.3 Variasi dengan Kalimat Langsung
Variasi dengan kalimat langsung dapat diuashakan dengan kalimat langsung. Dalam memaparkan ucapan atau pendapat orang tentang sesuatusoa, penggambaran dengan kalimat langsung biasanya lebih kongkret. Banyak sumber untuk menghasilkan kalimat langsung dalam suatu karya tulis. Seperti hasil wawancara, atau tanya-jawab, pidato, atau ceramah, sebuah buku, ucapan seorang pelaku dari sebuah cerita fiksi. Beberapa ucapan yang kita rasa penting, dan yang kita anggap ucapan ekspresif, kita tampilkan dalam bentuk kalimat langsung.
Langganan:
Komentar (Atom)